Halmahera Tengah dan Ternate fokus tangani sampah kawasan pertambangan

Diposting pada

Roda Berita – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Tengah (Halteng) dan Kota Ternate, Maluku Utara (Malut) fokus tangani sampah terutama di kawasan pertambangan dengan menyiapkan kontainer guna memudahkan mobilisasi sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Untuk memudahkan pengangkutan sampah, DLH telah tempatkan trans depo yang ditampung gunakan kontainer, sehingga memudahkan petugas mengangkut sampah semakin membludak di kawasan pertambangan,” kata Kepala Dinas DLH Kabupaten Halteng, Rivani AR dihubungi, Jumat.

DLH fokus menyelesaikan masalah sampah yang bertebaran hingga di Jalan Trans Weda – Patani sekitar areal pertambangan, menyusul banyaknya keluhan dari masyarakat akibat sampah yang begitu banyak hingga di jalan-jalan.

Menurut dia, meskipun telah disediakan sebanyak 10 kontainer, tetapi masih terbatas karena volume sampah yang diproduksi.

Oleh karena itu, pihaknya berharap adanya dukungan dari perusahaan tambang yang beroperasi di kawasan Weda Tengah, karena setiap hari sampah yang ada di daerah itu mencapai di atas 50 ton per hari.

Rivani berharap agar masyarakat dan pekerja di kawasan pertambangan untuk tidak seenaknya membuang sampah di badan jalan, karena DLH telah sediakan tempat untuk membuang sampah.

Sementara itu, DLH Kota Ternate fokus dalam penanganan sampah melalui rencana penyediaan pembangunan maggot center dan akan disediakan setiap kelurahan di Kota Ternate.

Kabid Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, DLH Kota Ternate, Syarif mengatakan, inisiatis pembangunan maggot center akan disediakan di seluruh kelurahan merupakan upaya dalam mengantisipasi masalah sampah di daerah ini.

Menurut dia, DLH telah melakukan proyeksi jika setiap kelurahan telah dibangun maggot center, tentunya sampah organik bisa dialami penghematan hingga 50 ton per hari, artinya sampah sebanyak itu tidak lagi dibuang di TPA Takome Kota Ternate.

Sebab, dengan adanya maggot maka bahan produksi sampah ini bisa dimanfaatkan hewan peliharaan dan bisa terjadi penghematan sampah yang setiap hari harus dibuang di TPA.

Dalam kesempatan itu, kata Syarif Tjan, DLH juga terus mengantisipasi berbagai masalah sampah dan pencemaran lingkungan melalui sosialisasi kepada para pelaku usaha dan warga setempat.

Untuk itu, DLH telah menggandeng pengusaha perbengkelan dan pemangku kepentingan, untuk mensosialisasikan terkait bahaya pencemaran lingkungan, terutama pembuangan limbah B3.

Bahkan, saat ini pihaknya fokus untuk mensosialisasikan terkait bahaya limbah B3, berupa oli bekas yang dibuang melalui drainase.

“Kami terus berupaya mengantisipasi terjadi kerusakan lingkungan karena ada laporan jika drainase ditemukan adanya pembuangan oli bekas dan mengalir ke laut karena terbawa air saat musim hujan ,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *